Kelebihan
sarana control social dengan sistem peradilan pidana dan bukan sistem peradilan
pidana
Sastra sebagai sebuah karya
imajinaf, ternyata diyakini mampu mengontrol kehidupan sosial masyarakat. Di
tengah semakin tercabiknya kehidupan bangsa, sastra diharapkan mampu berperan
dalam mengembalikan tatanan kehidupan yang kian amburadul saat ini.
Wakil Rektor III Unhas, Nasaruddin Salam menyampaikan hal tersebut pada pembukaan Festival Sastra Indonesia (FSI) II yang digelar Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia (IMSI), Fakultas Sastra Unhas, Kamis, 10 Mei. Nas, sapaan akrap Nasaruddin Salam mengatakan, sastra bisa menjadi kontrol sosial karena dalam sastra terdapat pesan serta amanah yang disampaikan melalui naskah sastra.
"Kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa Sastra Indonesia merupakan sebuah upaya untuk melestarikan karya sastra. Keterlibatan siswa SMP dan SMA sangat baik untuk menumbuhkan kecintaan mereka pada sastra sejak dini," papar Nas di dihadapan peserta dan panitia.
Sebagai bentuk apresiasi, Nas memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mendaftar di Unhas setelah lulus SMA Sertifikat yang peserta dapatkan, terlebih bagi pemenang akan sangat dipertimbangkan demi kelulusan.
"Kami memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mendaftar di Unhas jika nantinya sudah lulus SMA. Sertifikat kalian akan kami pertimbangkan, tentu bobotnya akan lebih besar bagi yang berhasil menjadi juara," katanya
Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Mahmud BM dalam sambutannya juga menyambut baik atas kegiatan festival sastra yang melibatkan anak SMP dan SMA itu. Bagi Mahmud, kegiatan FSI II merupakan peran serta dalam menciptakan arti pentingnya menumbuhkan rasa nasionalisme.
"Kesadaran bersastra perlu terus didorong bersama, demi menjunjung nilai kebenaran, kemandirian serta daya saing melalui kompetisi festival ini," tandasnya.
Usai pembukaan kemarin, kegiatan langsung dilanjutkan dengan lomba cipta dan baca puisi untuk tingkat SMP, SMA, Mahasiswa dan umum. Selain itu juga dilangsungkan diskusi antarmahasiswa bahasa dan sastra Indonesia se-Sulsel yang diikuti sembilan universitas. Mereka membahas masalah plagiat dalam sastra.
Universitas yang ikut antara lain, UMI Makassar, Unismuh, Uncok Palopo, STIKP Yapim Maros, STIKP Puang Rimagalatung Sengkang, Universitas 19 November, Universitas Asyari Mandar, STIKP Muhammadiyah Sidrap dan Unhas selaku tuan rumah.
"Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diselenggarakan IMSi setiap tahunnya. Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan lebih jauh tentang bahasa dan sastra Indonesia melalui kegitan lomba," papar Ketua IMSI, Mukhlis Abduh.
Wakil Rektor III Unhas, Nasaruddin Salam menyampaikan hal tersebut pada pembukaan Festival Sastra Indonesia (FSI) II yang digelar Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia (IMSI), Fakultas Sastra Unhas, Kamis, 10 Mei. Nas, sapaan akrap Nasaruddin Salam mengatakan, sastra bisa menjadi kontrol sosial karena dalam sastra terdapat pesan serta amanah yang disampaikan melalui naskah sastra.
"Kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa Sastra Indonesia merupakan sebuah upaya untuk melestarikan karya sastra. Keterlibatan siswa SMP dan SMA sangat baik untuk menumbuhkan kecintaan mereka pada sastra sejak dini," papar Nas di dihadapan peserta dan panitia.
Sebagai bentuk apresiasi, Nas memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mendaftar di Unhas setelah lulus SMA Sertifikat yang peserta dapatkan, terlebih bagi pemenang akan sangat dipertimbangkan demi kelulusan.
"Kami memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mendaftar di Unhas jika nantinya sudah lulus SMA. Sertifikat kalian akan kami pertimbangkan, tentu bobotnya akan lebih besar bagi yang berhasil menjadi juara," katanya
Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Mahmud BM dalam sambutannya juga menyambut baik atas kegiatan festival sastra yang melibatkan anak SMP dan SMA itu. Bagi Mahmud, kegiatan FSI II merupakan peran serta dalam menciptakan arti pentingnya menumbuhkan rasa nasionalisme.
"Kesadaran bersastra perlu terus didorong bersama, demi menjunjung nilai kebenaran, kemandirian serta daya saing melalui kompetisi festival ini," tandasnya.
Usai pembukaan kemarin, kegiatan langsung dilanjutkan dengan lomba cipta dan baca puisi untuk tingkat SMP, SMA, Mahasiswa dan umum. Selain itu juga dilangsungkan diskusi antarmahasiswa bahasa dan sastra Indonesia se-Sulsel yang diikuti sembilan universitas. Mereka membahas masalah plagiat dalam sastra.
Universitas yang ikut antara lain, UMI Makassar, Unismuh, Uncok Palopo, STIKP Yapim Maros, STIKP Puang Rimagalatung Sengkang, Universitas 19 November, Universitas Asyari Mandar, STIKP Muhammadiyah Sidrap dan Unhas selaku tuan rumah.
"Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diselenggarakan IMSi setiap tahunnya. Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan lebih jauh tentang bahasa dan sastra Indonesia melalui kegitan lomba," papar Ketua IMSI, Mukhlis Abduh.
Kelebihan control social dengan Sistem Peradilan
Pidana:
·
Mudah diterapkan
·
Adanya lembaga – lembaga
penegak hukum
·
Digunakannya undang – undang
sebagai dasar pedoman pemidanaan
·
Adanya sanksi yang tegas
terhadap pelanggarnya
·
bersifat koersif
·
adanya asas persamaan di muka
hukum(equality before the law)
Kelebihan control social yang bukan dengan Sistem
Peradilan Pidana:
·
menggunakan hukum yang
berlaku di masyarakat(hukum adat)
·
efisien, efektif, dan
fleksibel
·
bersifat preventif
·
digunakannya nilai – nilai
yang berlaku di masyarakat sebagai pedoman pemecahan suatu permasalahan
·
adanya asas “win – win solution” yang artinya bahwa
hasil yang ingin dicapai seminimal mungkin tidak merugikan pihak manapun.
Sumber
:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar